Syahriansyah Guru Ngaji Bersahaja di Kampung Pagat Barabai

oleh -57 views

Lama menjadi tenaga guru honorer Syahriansyah (54) baru empat tahun terkahir ini mengecapi menjadi pegawai negeri sipil setalah dilakukan pengangkatan.

Selama kurun waktu 21 tahun lamanya, dirinya terus memberikan ilmu pendidikan meski di luar lingkungan sekolah.

Di kampung nya di Pagat Sarigading, Desa Banua Binjai, Kecamatan Barabai, Kabupaten Hulu sungai tengah, dirinya dikenal sebagai guru ngaji yang sangat bersahaja, sebab selama dirinya mengajar untuk santrinya, tidak pernah meminta bayaran sepeserpun.

BARABAI, koranbanjarmasin.com – Lain halnya dengan sosok yang satu ini.Syahriansyah (54) merupakan seorang Pegawai negeri sipil (PNS) dengan pangkat cuma golongan II, namun tetap mengabdikan diri di masyarakat sebagai seorang guru mengaji di daerahnya, yakni kampung Pagat Sarigading, Desa Banua Binjai, Kecamatan Barabai, Kabupaten Hulu sungai tengah.

Kegiatan mengajar mengaji layaknya di sekolah TPA (taman pendidikan Al,Qur,an) itu sudah dilakoninya tidak kurang dari 21 tahun terakhir, kegiatan mengajar mengaji ini dilakukan setiap hari, selepas salat magrib. Sebelum melakukan aktifitas mengajar mengaji, dia jua mengajak santri nya untuk salat magrib berjamaah di ruang tamu rumahnya.

Jauh sebelum menjadi seorang PNS, Syahri panggilan akrabnya menghuni rumah bersama keluarga kalau itu tidak mempunyai aliran listrik, sehingga untuk mengajar mengaji santrinya dirinya menggunakan alat penerangan dari sinar api, yang terbuat dari botol kaca dan dikasih sumbu, sebab pada saat itu dirinya hanya sebagai guru honorer di sebuah sekolah dasar, dengan gajih 300.000 rupiah perbulan, dari situlah dia dan keluarganya menggantungkan hidup.

Suasana dalam rumah saat mengaji.

Namun sejak tahun 2002 rumahnya sudah di aliri listrik sehingga lebih mudah untuk mengajar mengaji santrinya.

Selama lebih dari 21 tahun dirinya mengabdikan diri dimasyarakat sebagai seorang guru mengaji, Syahri tidak pernah meminta bayaran sepeserpun kepada keluarga santrinya.

Memberikan ilmu agama kepada anak-anak umur tujuh hingga 15 tahun itu menurutnya merupakan tantangan tersendiri bagi syahri.

Santri-santrinya yang sekarang merupakan generasi kedua, generasi pertama merupakan orang tua santri tersebut, bahkan santri nya sendiri kina ada yang menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara), perawat, hingga seorang TNI.

Kepada koranbanjarmasin.com saat berkunjung ke rumahnya, Jum,at (24/9/2021) sekitar pukul 18.30 WITA. Dirinya menuturkan tidak meminta bayaran kepada murid – muridnya.

“Dari dulu hingga sekarang saya tidak pernah meminta bayaran sepeserpun untuk santri saya, tidak pernah meminta namun sering sekali diberi orang tua santri, pakaian muslim seperti Sarung, baju Koko, peci, sajadah, dan lain-lain,” ujarnya

Saat ini di rumahnya, tidak kurang dari 10 orang santrinya sedang mengikuti kegiatan belajar mengaji, hingga membaca ilmu fiqih yang di ajarkannya.

( Mj-41/slv )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.