Perampok Emas Kalsel, Korban Nenek Berusia 65 Tahun Ini Ceritakan Kejadian, Hingga Ancaman Dibunuh

oleh -32 views

Pasca perampokan yang dialaminya beberapa hari lalu, membuat Nenek Salbiah(65) warga Jalan Kelayan B Gang Kurnia Banjarmasin mengaku syok dan trauma.

BANJARMASIN,koranbanjarmasin.com – Namun kepada media ini, Salbiah (65) menceritakan semua kejadian perampokan yang dialaminya dari awal hingga akhir kronologis tanpa terbata – bata.

“Sekitar pukul 11.00 WITA aku pulang dari  pasar, tiba – tiba di tengah jalan ada orang dalam mobil memanggil aku, yah, yah,”  ujar Nenek tanpa suami karena meninggal ini.

Lanjut diceritakannya, merasa namanya dipanggil oleh dua orang laki-laki di dalam mobil tersebut, Salbiah seketika mendatanginya. Satu dari dua orang yang duduk di bangku sopir mengaku keluarga dengan Salbiah.

“Ujar orang itu mengaku keluarga, ujarnya hari minggu ini mamanya mau mengadakan acara kawinan jadi aku disuruh ikut naik kee dalam mobil, alasannya mamanya mau memberi baju,”  ungkapnya.

Setelah masuk ke dalam mobil, Salbiah kemudian dibawa ke arah luar kawasan Kelayan B. Sesampai tiba di depan Masjid Muhammadiyah, mobil pelaku yang membawa Nenek Salbiah tiba – tiba berhenti.

Salah satu pelaku mengatakan mobil tiba – tiba mogok, lagi – lagi kedua pelaku mengelabui Nenek yang memiliki enam orang anak dan beberapa cucu ini dengan beralasan alarm mobil konslet.

“Ujar orang itu lepas emas berupa cincin, kamu dulu, karena bisa konslet, mobil tidak mau jalan,” tutur Salbiah.

Setelah Salbiah melepas satu cincin emas di jarinya, lalu pelaku mengambil tisu dan menyuruh Nenek Salbiah membungkus cincinnya dan kemudian dimasukan ke dam dompet si Nenek.

Kedua pelaku melanjutkan aksinya melanjutkan perjalanan, namun bukannya singgah atau kembali ke rumah Nenek Salbiah, melainkan menuju arah luar kota.

“Eh handak dibawa kemana aku nih,” tanya Salbiah mulai curiga.

“Kesitu, kesana, ujarnya, terus ujar aku kemana jauhnya membawa aku nih kemana,” sambungnya.

Mobil terus mulai melaju, memasuki kawasan Jalan Ahmad Yani KM 6, mobil sengaja tidak ingin berhenti di lampu merah untuk menghindari perhatian pengendara dan Pos Polantas.

“Sengaja mobil memutar agar tidak berhenti di lampu merah karena khawatir teriakan nenek terdengar keluar,”  sahut seorang perempuan yang mengaku menantu Nenek Salbiah bernama Emelda.

Keluar dari kawasan KM 6 menuju luar kota, dari situ lah kedua pelaku mulai kasar dan membentak Salbiah. Dirinya pun kaget ketika dibentak pelaku seketika dia mengucapkan zikir astagfirullah sepanjang jalan.

“Diam! ujar si Sopir membentak aku, astagfirullah ucapku sepanjang jalan berzikir aja, ya Allah selamatkan aku,”  tuturnya.

Merasa dirinya diculik dan mengetahui bahwa kedua pelaku bukanlah keluarga ternyata perampok, Nenek Salbiah mencoba berontak melawan sembari berteriak meminta tolong.

“Aku mencoba melawan, sambil teriak tolong, tolong, tapi sia- sia orang tidak mendengar,” ucapnya.

“Aku tendang- tendang sampai aku kada terpikir lagi daster ku naik ke atas kada tahu lagi aurat ku terbuka,” imbuhnya.

Perlawanan Nenek Salbiah melepaskan dari tangan perampok sia – sia, akhirnya Salbiah hanya pasrah setelah kehabisan tenaga.

Sesampai di sebuah jalan sepi di kawasan Jalan Liang Anggang Banjarbaru, mobil penyekap Nenek Salbiah berhenti di sebuah jalan sepi. Disana terdapat sebuah bangunan berbentuk gudang yang terlihat kosong, tuturnya.

“Di dalam gudang itu badanku dorong hingga jatuh tersandar di dinding,”  semua perhiasan, kalung gelang semua dirampasnya pas di mobil, tinggal dua cincin yang masih terpasang di jari,” kenangnya.

Melihat Nenek Salbiah lunglai tak berdaya, dua cincin yang masih tersisa di jari tangan yang sudah nampak keriput itu pun tak luput dari perbuatan jahat kedua pelaku.

“Akhirnya cincinku yang masih di jari pun dirampasnya, habis pang dah beratataan,” katanya sembari mata berkaca – kaca.

Usai menyekap dan memploroti perhiasan Nenek Salbiah, kedua pelaku kemudian melarikan diri dengan meninggalkan nenek ini dalam keadaan lemah dan hampir tak mampu berjalan. Dengan perlahan Salbiah mencoba berjalan keluar dari gudang, hingga sampailah dirinya ke jalan namun masih terlihat sepi.

Lalu Nenek Salbiah berteriak minta tolong,  selang beberapa menit tiba – tiba lewat seseorang pengendara motor dengan membawa muatan berupa kayu ulin.

“Orang ini lewat aja pas aku minta tolong, tolong – tolong aku dirampok ujar ku, tapi tiba – tiba orang itu stop dan kembali,”  tuturnya.

Setelah pengendara itu bertanya perihal apa yang terjadi pada Nenek Salbiah, akhirnya pengendara itu merasa kasihan dan langsung membawa dirinya.

“Hingga mau orang itu mengantarkan aku ke rumah padahal inya membawa ulin, tetapi diturunkannya, hakun mengantarkan aku ke rumah,” ungkapnya.

Setelah sampai di depan rumah, seisi rumah, anak, cucu saudara Nenek Salbiah yang ternyata juga mengkhawatirkan dan sibuk mencarinya kemana mana, seketika menyambut penuh bahagia bercampur tangis sedih.

“Kenapa nek, kemana aja pian, kami abut mencari pian, ujar anak cucu ku dirumah nih, aku kisahkan ai kalau aku habis dirampok,” tuturnya lagi.

Pihak keluarga tidak terima dan sakit hati mendengar orang tua satu – satunya yang masih hidup diculik dan dirampok, akhirnya melaporkan kejadian itu ke Polsek Banjarmasin Selatan.

Kurang dari 24 jam, polisi menangkap pelaku berinisial RN (41) warga Duren Sawit, Jakarta Timur. Dia ditangkap saat hendak kabur menggunakan Kapal Mila Utama pada Selasa (5/10) malam.

Penangkapan melibatkan tim gabungan dari Unit Reskrim Polsek Banjarmasin Selatan, Jatanras Polresta Banjarmasin, Timsus Polresta Banjarmasin dan Resmob Polda Kalsel. Sementara satu pelaku lainnya saat ini masih dalam pengejaran.

Menurut keterangan pelaku diduga sindikat perampokan lintas provinsi.

(yon/slv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.