Noorhalis Majid : Pemerintah Terlihat Panik Ketika Tamu Agung Mau Datang

oleh -93 views

Sudah menjadi kebiasaan dan kewajaran setiap kali tamu agung yang mau datang seperti halnya presiden, pemerntah daerah setempat tampak terrlihat panik semua sibuk menata dan berbenah.

BANJARMASIN,koranbanjarmasin.com – Hal ini dikemukakan Budayawan Banjar Kalimantan Selatan, Noorhalis Majid  kepada media ini di Banjarmasin, Rabu(20/10/2021).

“Seperti halnya di rumah tangga juga, kalau ada tamu yang sangat dihormati datang, kita akan menyiapkan rumah, menatanya supaya nampak layak didatangi,” tuturnya.

Apalagi lanjut mantan Kepala Ombusdman RI wilayah Kalimantan Selatan ini, kalau misalnya, kondisinya tidak siap kedatangan tamu, maka akan nampak semakin panik mempersiapkan diri.

“Semakin panik, menggambarkan semakin tidak siap,” katanya.

Artinya rumah tersebut tidak siap menerima tamu agung. Kalau semuanya sudah tertata rapi, tidak perlu banyak persiapan.

Mestinya sambung Noorhalis, karena tugas menata dan membenahi daerah itu merupakan tugas wajib bagi pemerintah, dalam hal ini kepala daerah. Maka, kapanpun tamu agung datang, selalu siap

Jalan sudah mulus, kota bersih dari sampah. Bahkan yang paling penting, jangan sampai “kemiskinan” nampak bertebaran dalam berbagai wujud, misalnya dalam bentuk banyaknya peminta-minta, gelandangan, dan lain sebagainya.

Karena tugas pemerintah adalah menangani masyarakat agar hidup tidak miskin.  Bila kemiskinan semakin nampak, dan sudut-sudt kota, termasuk perempatan jalan menjadi “etalase” kemiskinan, menggambarkan pemerintah tidak bekerja serius.

“Kalalu panik, kebudayaan banjar menyindirnya, “handak bahira, hanyar mancari luang”, sudah terdesak, serba mepet, baru berbenah dan menata.
Karena serba terdesak,”  tuturnya lagi dengan  menggunakan peribahasa banjar.

Maka imbuhnnya pasti yang dilakukan hanya agar tidak kehilangan muka di hadapan tamu agung. Setelah tamunya pulang, segala hal yang tidak tertata, terurus dan tertangani dengan serius, akan kembali pada kondisi sebenarnya.

Di akhir narasinya, Noorhalis berharap ada baiknya ini menjadi refleksi, bahwa kita harus serius menata dan mengurus berbagai persoalan  kota dan banua kita.

“Sehingga kapanpun tamu agung datang, kondisinya sama baiknya, tidak perlu panik mempersiapkan diri. Tidak perlu pula memanipulasi keadaan agar terkesan baik,”

(yon/slv)

No More Posts Available.

No more pages to load.