, ,

Mengintip Keberadaan Warung Datoe Badoek Kalimantan di Kawasan Ekowisata Jembatan Pulau Bromo

oleh -47 views

Mengintip keberadaan sebuah warung makan sederhana bernama Warung Datoe Badoek Kalimantan, yang berada di kawasan Ekowisata Jembatan Pulau Bromo, Jalan Tembus Mantuil Banjarmasin.

BANJARMASIN, koranbanjarmasin.com — Alimun Hakim sang pemilik warung Datoe Badoek Kalimantan(DBK) kepada media ini, Selasa(7/9/2021) menceritakan, keberadaan atau dibukanya warung ini bersamaan dengan diresmikannya Jembatan Wisata Pulau Bromo 5 Juni lalu.

“Begitu Jembatan Pulau Bromo dibuka untuk umum, warung kita pun jalan,” ujarnya

Selain untuk menambah pemasukan kantong sendiri, Alimun berkata juga karena kawasan Mantuil sangat berpotensi dalam mengembangkan wisata lokal Banjarmasin.

Lantas apa keuntungan yang didapat bagi warung ini, Alimun berasumsi, semakin ramainya warga Banjarmasin maupun luar wilayah mengunjungi Mantuil karena tertarik dengan Ekowisata Jembatan Pulau Bromo, maka ada kemungkinan menambah omset warungnya.

‘kebetulan saya juga senang dengan kawasan Mantuil  karena nuansa alaminya masih sangat kental, masih banyak hutan dan sawah,”  tuturnya.

Menariknya, tokoh masyarakat dan menjadi aktivis di beberapa organisasi ini mengaku memiliki datu (orang tua dari Kakek) yang menjadi salah satu tokoh di Mantuil pada masa tahun 70 han.

“kebetulan datu kita yang perempuan dan sudah berpisah dengan suaminya, lalu merantau ke sini(Mantuil) dan memiliki rumah lanting bambu sambil berjualan alat pancing, dan peralatan pertanian, beliau biasa dipanggil Ma Isun,” tuturnya.

Dikatakannya, setelah melihat banyaknya potensi yang bakal digali di kawasan Mantuil khususnya kawasan Ekowisata Jembatan Pulau Bromo, akhirnya laku atau tidak laku kata Alimun itu persoalan belakang.

“yang penting warung berdiri dulu, perlahan sambil ditata kedepannya dan alhamdulillah sampai sekarang warung ini lumayan sudah banyak yang kenal dan mampir, baik hendak makan atau cuman rehat sambil minum kopi,” ungkapnya.

Awalnya, sambung Alimun, dirinya ingin mendirikan sebuah cafe, namun katanya Mantuil adalah masih suasana kampung tidak cocok untuk sebuah tempat nongkrong atau bersantai ala cafe.

“harga makanan maupun minuman pun kita standar aja, menyesuaikan harga warung – warung makan yang ada di wilayah Mantuil, sesuai kantong warga sini lah,” tuturnya.

Adapun nama Datoe Badoek sendiri, terangnya, berawal dari usulan kawan – kawan yang ada di group. Alimun mengaku menjadi anggota dari puluhan  group Whatsapp yang ia ikuti.

Namun ternyata tidak cuman dari usulan teman – temannya, melainkan ada kejadian aneh yang ia alami. Ketika berada di dalam kamar berkhalawat, terdengar sebuah suara di telinganya yang mengatakan “pakailah namaku”

“ternyata yang bersuara itu adalah Datoe Badoek sendiri, seluruh bulu kuduk ku berdiri, akhirnya aku namakanlah Warung Datoe Badoek Kalimantan,” cerita Alimun yang mengaku ada darah Martapura yang mengalir dalam dirinya.

Sekilas mengenai siapa Datoe Badoek atau dalam sejarah disebut Datu Bedog. Dia adalah seorang dari bangsa Jin yang menjadi salah satu murid Syekh Muhammad Arsyad Albanjari(Datu Kalampayan) Martapura, ketika mengajar di Masjidil Haram.

Suatu ketika, selesai menimba ilmu dan mengajar di Mekkah, Datu Kalampayan pulang ke Kampung Banjar Kalimantan Selatan. Datu Bedog ikut bersamanya dalam satu kapal.

Kapal tersebut sempat hendak karam karena Datu Bedog mengamuk ingin ikut Datu Kalampayan ke tanah Banjar. Akhirnya Datu Kalampayan mengijinkan Datu Bedog ikut dengannya.

Sejak saat itu, Datu Bedog berjanji, akan mengabdi di Majelis Syekh Muhammad Arsyad Al banjari hingga akhir zaman(kiamat).

(yon/slv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.