Jatuh Bermain Bola dan Tak Mampu Berobat, Hadi Menderita Kanker Tulang Sejak Sembilan Bulan Terakhir

oleh -30 views

Lantaran tidak mempunyai biaya untuk berobat saat terjatuh bermain bola, seorang santri asal Banjarmasin menderita kanker tulang. Penyakit itu dideritanya sejak sembilan bulan terakhir ini.

Banjarmasin,koranbanjarmasin.com – Kisah ini cukup menyedihkan, yakni seorang ibu menceritakan tentang keadaan anak laki – lakinya yang menderita kanker tulang selama  hampir sembilan bulan ini.

Sebelumnya beberapa hari telah lewat, viral di media sosial informasi tentang seorang anak laki – laki bernama Hadi menderita kanker tulang, butuh bantuan dermawan karena orang tuanya tidak mampu mengobati penyakit yang diderita anak yang berumur 15 tahun ini.

Siang tadi sekitar pukul 14.00 Wita, Jurnalis media ini mencoba ingin mengetahui lebih dalam mengenai anak itu dengan menelusuri alamat yang tertera pada pesan Whatsapp secara berantai dan tersebar itu.

Akhirnya berselang 30 menit, Jurnalis menemukan alamat Hadiansyah nama lengkap Hadi, yakni di Jalan Simpang Babagi Kelurahan Pengambangan RT 6, RW 2 Nomor 64 Kecamatan Banjarmasin Timur Kota Banjarmasin.

Sesampainya disana dan mencoba bertanya dengan meminta menceritakan awal mula mengapa anak kelima dari enam bersaudara itu mengalami penyakit kanker tulang.

“Kejadiannya pas waktu mulai ampih( usai) banjir kemarin, kalau tidak salah bulan Februari. Saat itu anak ulun(saya) ini jatuh dari main bola(permainan sepak bola),”  ujar Rusliani mengawali ceritanya.

Lanjutnya, tulang tempurung lutut pada kaki Hadi cedera cukup serius, tanpa membuang waktu seketika orang tua Hadi membawa anaknya ke tukang pijat.

“Kami bawa langsung ke tukang urut, sebanyak tiga kali kami bawa, namun tetap masih sakit,” katanya.

Akhirnya lanjut lagi Rusliani mengisahkan, atas saran tetangga, Hadi harus di bawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Lalu pada bulan Maret, Hadi yang merupakan santri di salah satu pondok pesantren Kota Intan Martapura,tepatnya di Desa Alimamar, Kecamatan Astambul yakni bernama Pondok Pesantren Shafwanul Mustafa ini dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah(RSUD) Ulin Banjarmasin untuk diperiksa.

“Hasil pemeriksaan di laboratorium, kata dokter yang memeriksa itu, anak ulun mengalami kanker tulang, seketika syok kami mendengarnya,” tutur Rusliani dengan mata berkaca – kaca.

Ketika ditanya apakah ada keluarga atau nenek kakek yang menderita kanker, Rusliani menjawab tidak pernah terjadi dalam keluarganya.

“Soalnya kami alhamdulillah selama ini tidak pernah terkena penyakit berat, jadi kada pernah berobat ke rumah sakit, paling ke puskesmas,” ungkapnya.

Pasangan suami istri yang memiliki anam orang anak, lima orang  tinggal satu rumah, satu orang laki – laki keluar karena sudah berkeluarga dengan kehidupan sederhana ini merenung, dibenak mereka terpikir bagaimana mendpatkan uang untuk mengobati Hadi.

“Kami pun pasrah kepada Allah, kami obati anak kami dengan tamba kampung(pengobatan tradisional dan herbal),” katanya.

Namun hari kian hari, lututnya semakin membengkak hingga terus membesar. Syahruji yang hanya bekerja sebagai sopir bis dan Rusliani hanya sebagai perajut kembang telon ini merasa kebingungan, bagaimana lagi caranya mengobati penyakit kanker tulang anaknya.

“Atas usul warga, dan teman suami keadaan anak kami lebih baik  di viralkan di media sosial, siapa tau kata kawan abahnya banyak yang membantu dan kasihan,” tuturnya.

Awalnya sambung Rusliani, ayah Hadi(Syahruji) menolak karena malu, namun karena banyak kawan – kawannya yang memberikan pengertian dan semangat, akhirnya Syahruji bersedia.

Syahruji adalah seorang sopir bis lokal yang sudah puluhan tahun bekerja. Sebelum pandemi Covid-19 terjadi, ekonomi keluarganya tercukupi.

Namun saat ini, akibat wabah Corona melanda Kalimantan Selatan, akibatnya pekerjaan mulai tidak stabil, secara perlahan penumpang bis pun makin sepi, hingga perusahaan bis itu mengistirahatkan para sopir.

Pemasukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sudah kembang kampis, morat marit cari usaha lain pun dilakukan namun penghasilannya tidak sebesar bekerja sebagai sopir bis.

“Syukurnya ada kawan abahnya meminjami kami tanah (sawah) jadi daripada tidak ada pekerjaan, terpaksa kami bertani, alhamdulillah lumayan aja dari sebelumnya, enak sedikit bernafas,” ungkap Rusliani.

Informasi terakhir yang didapat media ini, Hadiansyah sudah di bawa ke RSUD Ulin Banjarmasin, untuk dikukan penganan oleh salah satu anggota dewan.

(yon/slv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.