Dibangun Pada Abad ke-17, Mesjid Al A’la di Barabai Menjadi Bukti Situs Perjuangan Islam

oleh -61 views

Mesjid yang berada di Desa Jatuh, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, tepatnya dipertigaan kampung Pematang tersebut bernama Mesjid Al A’la atau biasa disebut dengan nama lain yakni Mesjid Jatuh. Dibangun pada sekitar abad ke-17, tempat peribadahan umat Islam di lokasi ini diyakini berusia lebih dari tiga abad.

BARABAI,koranbanjarmasin.com – Mesjid Al A’la yang terletak di Desa Jauh ini sering dipanggil masyarakat dengan sebutan mesjid Barangkat.

Diyakini masyarakat yang jauh dari Mesjid tersebut bahwa tempat peribadahan umat muslim ini setiap tahun pasti bertambah tinggi, sesuai dengan nama mesjidnya Al-A’la yang berarti Tinggi.

Namun bagi masyarakat sekitar Mesjid ini tetap seperti biasanya tidak ada yang berubah apalagi makin tinggi.

Berdiri pada simpang tiga sungai di kampung yang sangat tertua, diperkirakan didirikan pada pertengahan abad ke 17, sedangkan sungai yang bercabang dua tersebut bernama Batang Banyu Jatuh yang mengalir menuju Hilir Banua dan cabangnya barnama sungai Ringsang menuju kampung Pamatang.

Pembangunan Mesjid ini juga dibarengi dengan turunnya panji-panji yang dipercayai masyarakat sebagai barang peninggalan pada masa itu.

Sayangnya pada saat media ini berkunjung, Rabu ( 27/10/2021 ) sore, panji-panjinya tidak ditempat dan disimpan di rumah tokoh atau orang yang dituakan di tempat masyarakat sekitar mesjid tersebut, dan tidak bisa didatangi kerena sipenghuni rumah tidak berada di tempat.

Salah satu masyarakat sekitar menceritakan bahwa panji-panji tersebut berbentuk kain dengan bertulisan kalimat Kalam Allah, dan usianya sama seperti umur mesjid ini, ungkap Fahrudin.

“Menurut ceritadari tetuha bahari (orang tua terdahulu, red) pembina utama ialah Penghulu Muda Yuda Lelana pada awal abad ke 19. Yang merupakan pimpinan agama didaerah ini” Fahrudin.

Ditambahkannya, penghulu muda tersebut dikenal sebagai Pimpinan Pasukan Baratib yang mengadakan perlawanan bersenjata terhadap penjajah Belanda. Pasukan Baratib maksudnya adalah pasukan rakyat yang selalu berzikir menyebut nama Allah, lebih-lebih pada saat bertempur.

“Sebuah pertempuran yang sengit terjadi di anak kampung Pinangin desa Banua Batung yang berhasil menewaskan beberapa serdadu belanda termasuk diantaranya pimpinan pasukan kapten Van der Heide,” Tutupnya.

Pada saat itu masjid Al-A’la berfungsi sebagai markas pasukan Baratib guna mengatur siasat pertempuran.

Panji-panji peninggalan kuno yang bertulisan zikir tersebut telah memberi semangat kepatriotan rakyat melawan tentara penjajah belanda, karena Panji-panji inilah yang dipakai sebagai bendera Pasukan Baratib tersebut.

Sedangkan kampung Pamatang di sebelah timurnya pada waktu dulu dikenal dengan nama kampung Pematang Paunduran, suatu benteng pertahanan terakhir ketika rakyat disitu mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Pematang Paunduran merupakan istilah Bahasa Daerah Banjar yang berarti dataran tempat untuk mundur yaitu daerah untuk bertahan.

(Mj-41/slv)

No More Posts Available.

No more pages to load.