Biografi Tuan Guru Zuhdi Banjarmasin; Aktif Mengajarkan Tasawuf hingga Aktif Menjadi Ketua BPK

oleh -20 views
KH Ahmad Zuhdianoor atau Guru Zuhdi semasa hidup dalam sebuah pengajian rutin. (foto: istimewa)
KH Ahmad Zuhdianoor atau Guru Zuhdi semasa hidup dalam sebuah pengajian rutin. (foto: istimewa)

KH Ahmad Zuhdiannoor adalah salah seorang dari sejumlah ulama tanah Banjar yang masyhur. Dia juga dikenal dengan sebutan Abah Guru Zuhdi, lahir di Alabio pada 10 Februari 1972 dan wafat di Jakarta pada  2 Mei 2020 di usia 48 tahun. Sosok Guru Zuhdi tak hanya dikenal aktif mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam, seperti tauhid dan tasawuf, tetapi dia juga aktif dalam organisasi sosial seperti Barisan Pemadam Kebakaran (BPK).

KORANBANJARMASIN.COM – Tuan Guru Zuhdi merupakan pemuka agama sekaligus tokoh masyarakat yang dikenal sebagai ulama besar berpengaruh dan kharismatik di Kalimantan Selatan, terutama di Kota Banjarmasin.

Guru Zuhdi lahir dari pasangan Tuan Guru Muhammad bin Haji Jafri Al Banjari dan Hj Zahidah binti Tuan Guru Asli Al Banjari.

Ayahnya adalah pimpinan Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru dan dikenal sebagai ulama yang cukup berpengaruh di Banjarmasin. Sedangkan kakeknya dari pihak ibu, Tuan Guru Asli adalah tokoh ulama asal kampung Alabio, Hulu Sungai Utara.

Pendidikan Guru Zuhdi

Guru Zuhdi menjalani pendidikan formal hanya sampai tingkat Sekolah Dasar. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Al Falah. Awalnya ia berguru kepada ayahnya, Tuan Guru Muhammad bin Haji Jaferi Al Banjari, Pimpinan Pondok Pesantren Al Falah Banjarbaru tahun 1986-1993.

Selain berguru pada sang ayah, ia juga sempat menimba ilmu sebentar di Pondok Pesantren Al Falah Banjarbaru. Karena sering sakit-sakitan, Guru Zuhdi berhenti, dan melanjutkan pelajaran di kampung Alabio Hulu Sungai Utara kepada sang kakek, Tuan Guru Haji Asli Al Banjari.

Selama belajar dengan kakeknya, ia mempelajari ilmu tajwid, fikih, tasrif, tauhid, dan tasawuf.

Setelah kakeknya wafat, ia melanjutkan pengembaraan pendalaman ilmunya kepada Muallim Syukur, seorang ulama di Teluk Tiram, Banjarmasin. Selama di sana, ia belajar tasawuf, fikih, ushul fikih, dan arudh.

Setelah Muallim wafat, Guru Zuhdi meneruskan belajarnya kepada ulama Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang terkenal dengan sebutan Guru Sekumpul Martapura.

Pengajaran dan Dakwah

Guru Zuhdi pernah mengajar di Pondok Pesantren Al Falah selama sekitar dua tahun. Ia juga banyak mengisi majelis taklim dan membuka pengajian di Masjid Jami Banjarmasin, pengajian di rumahnya, pengajian di Teluk Dalam, Langgar Darul Iman, pengajian di Sungai Andai, pengajian di Kota Citra Graha KM 18, dan pengajian di Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

Guru Zuhdi sering mengajarkan tauhid dan tasawuf, serta menekankan betapa pentingnya membersihkan hati. Ia juga konsisten di jalur dakwah serta tidak ikut dalam dunia politik, misalnya mendukung politisi tertentu dalam pemilihan umum.

Selain sebagai ulama, Guru Zuhdi juga menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat tim sepak bola Barito Putera. Dalam kegiatan yang diselenggarakan Barito Putera, Guru Zuhdi seringkali memimpin agenda yang digelar. Ia juga merupakan Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Kalimantan Selatan periode tahun 2018-2023.

Guru Zuhdi juga aktif menjadi anggota pemadam kebakaran sekaligus mengetuai sebuah organisasi Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) di Banjarmasin dan turun langsung ke lokasi kebakaran untuk memadamkan api.

Wafat

Guru Zuhdi meninggal dunia pada 2 Mei 2020 atau 9 Ramadhan dalam usia 48 tahun setelah dirawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Almarhum didiagnosis mengalami kanker paru dengan diagnosis banding kanker kelenjar getah bening. Sebelumnya. Guru Zuhdi dirawat selama dua hari di rumah sakit dan sempat menjalani pemeriksaan uji cepat dan usap PCR Covid-19. Hasil tes menyatakan negatif.

Jamaah pengajian dan masyarakat yang mendengar kabar meninggalnya Guru Zuhdi perlahan mulai berkumpul di sekitar kediaman almarhum. Ratusan warga yang berkumpul juga berdoa bersama untuk almarhum di Masjid Jami Banjarmasin. Beberapa petugas kepolisian dan TNI serta relawan pemadam kebakaran yang berjaga memberi imbauan agar masyarakat yang berdatangan tidak berkerumun dan tetap menggunakan masker, karena saat itu sedang terjadi pandemi koronavirus dan penerapan pembatasan sosial berskala besar di Banjarmasin.

Sebagian warga lainnya juga berkumpul di kawasan Perumahan Kota Citra Graha Banjarbaru setelah mendengar kabar bahwa almarhum akan dikebumikan di lokasi tersebut.

Jenazah almarhum diterbangkan dari Jakarta menuju Banjarmasin. Anggota keluarga memutuskan almarhum dimakamkan di samping kediamannya di belakang Masjid Jami Banjarmasin. Pada malam harinya, almarhum dikebumikan dan diantar oleh ribuan warga dan jemaah pengajian sambil melafalkan zikir dan selawat.(*)

(sumber:wikipedia.org)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.